Hot Artikel

Rekomendasi Itikaf Di Bandung Berasarkan Pengalaman

 
Rekomendasi Itikaf Di Bandung Berasarkan Pengalaman

Rekomendasi Itikaf Di Bandung Berasarkan Pengalaman

Rekomendasi Itikaf Di Bandung Berasarkan Pengalaman 

Rekomendasi Itikaf Di Bandung Berasarkan Pengalaman -  I’tikaf bisa dikatakan sebagai salah satu ritual ibadah yang dianjurkan di dalam ajaran Islam. Namun di zaman yang serba sosmed dan konten viral saat ini, i’tikaf bukan lagi sekedar sebuah ritual keagamaan saja. Melainkan sudah menjadi trend tersendiri di bulan ramadhan selain trend yang hanya ada di bulan Ramadhan saja seperti berburu takjil dan juga sahur on the road, terutama bagi para anak-anak muda yang selalu tak ingin ketinggalan dengan trend-trend yang ada. Terutama, di Bandung di mana ada beberapa masjid yang mengusung tajuk masjid anak muda dengan pengelolaan kepanitiaan modern, donatur melimpah dan sudah pasti juga populer di sosial media seperti Instagram dan tiktok.

Baca Juga :

Waktu Sholat Dhuha Dalam Budaya Kerja Jepang

Mengapa AI Hirohito Jadi Tren? Sejarah Kaisar Jepang dan Alasan Ia Tak Pernah Dihukum Mati

 

Akhir tahun 2024, pertemuan saya dengan komunitas Yuk Ngaji Bandung membuat saya ikut dalam event I’tikaf di salah satu masjid yang cukup populer di kota Bandung. Tahun 2025 adalah untuk pertama kalinya saya ikut beri'tikaf. Meskipun, sebenarnya kalo berbuka puasa di masjid, saya sudah sering melakukannya. Bahkan ketika semasa saya masih bersekolah di Palembang pun, saya sering berbuka di Masjid Agung Palembang.

Namun untuk beri'tikaf dan menginap di masjid, ini adalah pengalaman pertama.

Masjid Al Mukhlisin, Jalan Jakarta Bandung

Masjid Al Mukhlisin, memang sangat cocok menjadi tempat berkumpulnya para anak muda Islam. Selain karena masjid ini menjadi markas tetap komunitas Yuk Ngaji Bandung, selalu bukan 24 jam,  mereka juga seringkali mengadakan event-event keagamaan seperti Maulid Expo, Kajian, Makan gratis setiap senin kamis dll. Selain itu masjid ini banyak di sokong oleh berbagai sponsor lokal di daerah Bandung.

Nah disini, saya akan berbagi beberapa pengalaman saya ketika mengikuti i’tikaf di Masjid ini.
Pertama, seperti yang telah saya sebutkan di atas. Masjid ini buka 24 jam, sehingga aman untuk sekedar tidur-tiduran ataupun tidur beneran di masjid ini, gak usah khawatir akan di usir oleh marbot karena dianggap mengotori masjid. Lalu, yang perlu diperhatikan adalah, Masjid Al Mukhlisin memang menyiapkan makan sahur gratis, namun hanya ada di malam-malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadhan saja. Lalu, ini yang perlu sangat diperhatikan, karena Masjid ini mengambil pandangan dan berkiblat pada rukyat global. Dimana, mereka mengikuti semua negara yang telah lebih dulu berpuasa atau berlebaran, biasanya malam ganjil dan genapnya kadangkala berbeda dengan versi pemerintah dan bahkan lebarannya pun beda. Meskipun begitu, beri’tikaf di masjid ini cukup nyaman dan menyenangkan. Pertama, karena gak terlalu rame, jadi masih ada space untuk tidur dan beristirahat malam. Kedua, kajian biasanya hanya sampai jam 10 malam atau paling lambat jam 11 malam. Kalo sponsor banyak, makanan dan snake juga cukup melimpah serta ada doorprize. Fasilitas penunjang seperti meja kursi ala cafe, parkiran luas dan gratis, serta wc yang bersih memadai , dan juga sumber listrik buat ngecas juga menjadi faktor penting yang menambah kenyamanan beri'tikaf di Masjid ini, Oiya, untuk sahur dan berbuka juga, lauknya cukup beragam. Namun yang pasti, ketika berbuka di sini, selalu di sediakan nasi setelah sholat Magrib, dengan porsi,yaaa.. ala kadarnya.


Masjid Al Lathiif, Jl. Saninten Bandung

 
Rekomendasi Itikaf Di Bandung Berasarkan Pengalaman

Salah satu masjid yang mengusung masjid anak muda selanjutnya adalah Masjid Al Lathiif, di Jl. Saninten Bandung. Masjid ini lebih populer daripada masjid sebelumnya yang saya sebutkan di list ini. Ini tak terlepas karena populernya salah satu pendakwah yang berasal dari masjid ini, yaitu Hanan Attaki secara nasional. Karena populer, jelas menjadikan 10 malam terakhir beri’tikaf di masjid ini menjadi momen yang penuh sesak. Rata-rata dari mereka adalah para remaja dan anak muda yang mungkin ingin mengikuti i’tikaf namun tidak tahu harus mulai dari mana. Sama seperti sebelumnya, sahur dan berbuka disediakan gratis disini. Namun, untuk sahur, bisa mengambil kupon sahur yang bisa diambil setelah sholat magrib hingga sebelum tarawih. Untuk fasilitas, sangat bagus sekali, terutama WC dan juga tempat wudhunya. Setelah sahur juga terkadang di sediakan makanan manis seperti kurma atau bolu di meja kepanitian di bagian luar masjid. Namun minusnya masjid ini menurut saya, selain karena cukup ramai. Parkirnya juga bayar sama jukir.
Lalu, banyak kegiatan kajian setiap selesai shalat, mungkin ini akan cukup mengganggu waktu istirahat kalian.
Ditambah lagi, ada kajian setelah tarawih sampai jam 11 malam, lalu ada lagi kegiatan Qiyamul lail dari jam 2 pagi hingga jam 4 pagi, lalu dilanjutkan dengan santap sahur. Nasi yang disediakan juga, yaa.. cukup ala kadarnya.


Masjid Junudurrahmah Kodiklat Bandung

 
Rekomendasi Itikaf Di Bandung Berasarkan Pengalaman

Dari semua rekomendasi dan pengalaman saya ber i'tikaf di kota Bandung sejauh ini, pengalaman beri'tikaf di masjid Masjid Junudurrahmah Kodiklat Bandung adalah pengalaman yang cukup buruk. Pertama, kalo siang hari kita tidak diperkenankan tidur tiduran di masjid. Lalu, ketika berbuka, makanan yang disediakan hanya berupa takjil gorengan, tanpa disediakan Nasi. Dan itupun harus mengambil sendiri di pelataran masjid, sehingga rawan kehabisan jika tidak cepat-cepat mengambil. Saya kemarin, ketika berbuka di masjid ini. kehabisan kolak yang disediakan karena saya menghampiri pelataran pas ketika adzan magrib. Alhasil, saya hanya kebagian gorengan, air dan kurma. Namun, hikmahnya dari semua itu justru saya kenyang makan gorengan, karena saya mengambil cukup banyak. Lalu, ada juga dispenser teh tawar di sini, dan di sebelahnya di sediakan gula dan kopi. Meskipun, menurut saya teh nya gak enak. Selain itu, karena terletak di pusat kota, banyak beberapa event makan dan minuman gratis di parkiran masjid ini. Dan berbeda dengan 2 masjid sebelumnya yang identik dengan anak muda, di masjid ini rata-rata para orang tua yang ibu-ibu yang membawa serta keluarganya. Tau sendiri lah kalo ada ibu-ibu dikasih sediakan makanan gratis, gimana? ya pasti berebutan dan rusuh.

Lalu, bagaimana dengan sahurnya? Nah ini yang membuat saya sedikit kecewa, karena menurut informasi sahur di masjid ini memakai sistem kupon, dan disediakan setelah tarawih. Namun ketika saya bertanya, ternyata kuponnya disediakan ketika tarawih di hari sebelumnya. Dan bahkan tidak diumumkan atau diberitahukan dimana tempat mengambil kuponnya. DKM dan kepanitiaannya tidak terlalu transparan untuk masalah ini,

Ya itulah pengalaman saya ber i'tikaf di masjid masjid di kota Bandung. Meskipun menyenangkan, namun bagi bagi saya pribadi. Porsi Nasi dan makanan yang disediakan cukup kurang, jika saya membandingkan pengalaman saya berbuka puasa di Masjid Agung Palembang. Di sana, memang tidak ada takjil gorengan, dan hanya disediakan kurma serta air. Namun, untuk porsi Nasi nya adalah nasi bungkus ala Nasi Padang. Apalagi biasanya banyak sponsor yang berdonasi di Masjid ini, seperti RM Pagi Sore dll, jadi tak jarang para jamaah mendapatkan 2 porsi nasi Padang sekali buka puasa. Untuk sahur, saya tidak tahu, karena saya sama sekali belum pernah ikut serta sih.


Tidak ada komentar