Hot Artikel

Kenapa Revolusi Iran Sama Seperti Restorasi Meiji Jepang?


 

 Kenapa Revolusi Iran Sama Seperti Restorasi Meiji Jepang?

Kenapa Revolusi Iran Sama Seperti Restorasi Meiji Jepang? - Iran ada di mana-mana. Semua pers di seluruh dunia sedang menyorot mereka, begitupun juga denngan aktifitas di sosial media, ada saja postingan tentang Iran.Semua berpusat pada Iran.
Semua itu tak lepas dari keberhasilan mereka, setidaknya mengimbangi Amerika dalam perang iran-Amerika Israel akhir-akhir ini.
Ya, perang ini sendiri memang awalnya di cetuskan oleh Amerika. ketika mereka bersama Israel membombardir rumah kediaman imam besar sekaligus pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Penyerangan ini sontak membuat Iran marah, mereka langsung memborbardir Israel dan juga pangkalan-pangkalan Amerika di timur tengah dengan rudal-rudal canggih buatan mereka.

Apa yang di perbuat Amerika dengan menargetkan penyerangan langsung ke kediaman pribadi pemimpin Iran, di maksudkan untuk menggulingkan kekuasaan rezim Iran. Namun semua yang di rencanakan bertolak belakang dengan hasil yang di dapat. Iran justru semakin berani untuk menyerang  Amerika. Bahkan mereka juga tetap solid, di masa-masa kritis tanpa pemimpin tertinggi. Dan dengan cepat menunjuk pemimpin baru untuk menggantikan Khamenei, yaitu anaknya sendiri,Mojtaba Khamenei. Dan bahkan membuat beberapa propaganda kreatif tentangg perang yang di tujukan untuk menyerang Amerika.

Ya, Iran yang kita lihat saat ini. Di mana mereka tetap kuat meski di embargo pihak barat, mereka tetap solid meskipun pemimpin mereka  terbunuh, dan tetap bisa melawan dengan persenjataan canggih mereka yang bahkan membuat Israel serta juga  Amerika kewalahan adalah sebuah keajaiban, sebuah  proyek besar hasil dari revolusi Islam bertahaun-tahun lalu. Ini juga adalah hasil pembinaan sdm muda Iran, dan pembangunan menyeluruh yang di komandoi imam besar Iran. Namun bukan pembangunan dan  pembinaan biasa yang mudah runtuh oleh serangan dari luar. Pembangunan Iran, adalah pembangunan  yang mengakar. Karena  semua itu berdasarkan satu kata yang bahkan bapak komunis dunia pun sangat benci dengan  satu kata ini, yaitu dogma.

Ya, dogma adalah satu dasar yang membedakan Iran dengan negara-negara lain yang pernah di perangi oleh Amerika. Dogma jugalah alasan utama perhitungan Amerika tentang pemerintahan Iran menjadi kesalahan fatal dari operasi epic fury yang di lancarkan Amerika. Operasi ini, yang awalnya di maksudkan untuk menghancurkan Iran justru memberikan alasan bagi Iran untuk melawan dan justru menjadi alasan mereka untuk semakin solid melawan Amerika.

Ya, apa yang terjadi di Iran saat ini, bagaimana mereka memperlihatkan kesolidan, memperlihatkan kekuatan politik yang kokoh, dan memperlihatkan hasil program revolusi ini, mengingatkan saya dengan sejarah Restorasi Meiji yang terjadi di Jepang. 

Baca Juga :

Filosofi Jiraya Di Anime Naruto Sesuai Islam dan 
Kenapa Lebaran Idul Fitri di Indonesia berbeda-beda?

Kalau orang membicarakan Jepang modern, biasanya mereka langsung membayangkan kereta cepat, industri canggih, militer disiplin, pendidikan ketat, dan negara yang bisa mengejar Barat hanya dalam waktu singkat. Dari luar, perubahan itu sering terlihat seperti keajaiban sejarah. Seolah-olah Jepang suatu hari tertidur sebagai negeri feodal, lalu bangun sebagai negara modern. Padahal, yang sebenarnya terjadi jauh lebih rumit dan jauh lebih menarik.

Restorasi Meiji tidak berhasil hanya karena Jepang “meniru Barat”. Ia berhasil karena Jepang melakukan sesuatu yang jauh lebih besar: mereka membongkar ulang seluruh struktur negara dan masyarakat. Mereka tidak hanya mengganti pemimpin, tetapi juga mengganti cara orang bekerja, belajar, berperang, berpakaian, berpikir, makan, dan bahkan mencintai. Jepang modern lahir bukan hanya dari mesin, sekolah, dan tentara, tetapi juga dari perubahan besar dalam nilai-nilai hidup.

Itulah mengapa Restorasi Meiji sangat penting. Ia bukan sekadar peristiwa politik tahun 1868 ketika kekuasaan shogun runtuh dan kaisar kembali dijadikan pusat negara. Restorasi Meiji adalah momen ketika Jepang memutuskan bahwa untuk bertahan di dunia modern, mereka harus menjadi negara baru.

Dan yang membuatnya lebih menarik lagi adalah ini: Jepang sebelum Meiji sebenarnya bukan negeri yang “mati” atau “terbelakang”. Justru sebaliknya, Jepang zaman Edo adalah masyarakat yang stabil, teratur, produktif, dan sangat kaya budaya. Tetapi stabilitas itu dibangun untuk dunia lama, bukan untuk dunia modern yang dipenuhi kapal perang, imperialisme, industri, dan persaingan antarnegara.

Jadi pertanyaannya bukan sekadar “kenapa Jepang bisa modern?”
Pertanyaan yang lebih tepat adalah: kenapa Jepang berani mengorbankan dunia lama mereka demi masa depan?

Untuk memahami itu, kita harus mulai dari zaman Edo.


Zaman Edo, yang berlangsung dari awal abad ke-17 sampai 1868, sering digambarkan sebagai masa ketika Jepang “tertutup”. Gambaran itu tidak salah, tapi terlalu sederhana. Yang sebenarnya terjadi adalah Jepang di bawah Keshogunan Tokugawa menciptakan sebuah sistem yang sangat stabil. Negara dibangun di atas tatanan feodal yang jelas: samurai sebagai kelas penguasa, petani sebagai tulang punggung produksi, pengrajin dan pedagang sebagai penopang ekonomi kota. Daimyo menguasai wilayah masing-masing, tetapi semua tetap berada di bawah kontrol politik Tokugawa.

Bagi orang modern, sistem itu mungkin tampak kaku, tetapi bagi Jepang saat itu, ia adalah jawaban atas ratusan tahun perang saudara. Edo memberi Jepang sesuatu yang sangat berharga: ketertiban. Kota-kota berkembang, perdagangan hidup, seni tumbuh, sastra populer muncul, teater berkembang, dan kehidupan urban menjadi semakin kompleks. Edo, Osaka, dan Kyoto bukan kota mati; mereka adalah pusat budaya yang sangat aktif.

Namun, stabilitas punya harga. Sistem yang terlalu stabil sering kali menjadi sulit beradaptasi. Dan itulah yang terjadi pada Jepang Tokugawa. Dunia di luar berubah dengan sangat cepat, sementara Jepang tetap mempertahankan struktur yang cocok untuk abad ke-17, bukan abad ke-19.

Ketika kapal-kapal Barat datang dengan meriam, teknologi, dan tuntutan dagang, Jepang tiba-tiba menyadari bahwa ketertiban internal tidak cukup untuk menghadapi dunia internasional yang brutal. Negara-negara Barat tidak datang untuk berdialog setara; mereka datang dengan logika imperialisme. Mereka memaksa pelabuhan dibuka, menuntut perjanjian yang merugikan, dan menunjukkan dengan jelas bahwa negara yang lemah akan ditelan.

Di titik itulah Jepang menghadapi krisis yang sangat besar. Mereka bukan sekadar bertanya, “Apakah kita perlu berubah?” Mereka bertanya, “Kalau kita tidak berubah, apakah kita masih akan tetap ada?”

Restorasi Meiji lahir dari ketakutan itu, tapi juga dari keberanian untuk menjawabnya.

Salah satu alasan terbesar kenapa Restorasi Meiji berhasil adalah karena para pemimpinnya memahami bahwa masalah Jepang bukan hanya pada teknologi, tetapi pada struktur kekuasaan. Selama sistem feodal masih dipertahankan, Jepang tidak akan pernah bisa menjadi negara modern yang terpusat dan efisien.

Negara modern membutuhkan satu hal yang sangat penting: kekuasaan yang tersentralisasi. Jepang zaman Edo justru sebaliknya. Kekuasaan tersebar di antara berbagai domain feodal, loyalitas terpecah, dan identitas politik masih sangat lokal. Seseorang bisa lebih merasa sebagai “orang Satsuma” atau “orang Chōshū” daripada sebagai “orang Jepang”.

Restorasi Meiji memutus itu. Mereka tidak hanya menjatuhkan shogun, tetapi juga membangun gagasan baru tentang negara: bahwa Jepang harus menjadi satu tubuh politik yang utuh, dengan satu pusat, satu hukum, satu tentara, dan satu tujuan nasional.

Ini perubahan yang luar biasa besar.
Karena begitu sebuah negara menjadi terpusat, ia bisa mulai melakukan hal-hal yang sebelumnya mustahil.

Ia bisa menarik pajak secara lebih efektif.
Ia bisa membangun sekolah nasional.
Ia bisa membuat wajib militer.
Ia bisa mengatur ekonomi.
Ia bisa membentuk identitas rakyat.

Dan itulah yang dilakukan Jepang.

Modernisasi Jepang berhasil bukan karena mereka punya “ide bagus” saja, tetapi karena mereka punya negara yang cukup kuat untuk memaksakan perubahan itu.

Kalau tidak ada negara yang kuat, modernisasi hanya akan jadi wacana.
Di Jepang Meiji, modernisasi menjadi kebijakan nyata yang menyentuh hidup sehari-hari rakyat.

Di sinilah kita mulai melihat sesuatu yang sangat penting: modernitas bukan selalu berarti kebebasan. Kadang-kadang modernitas justru berarti kontrol yang lebih besar.

Banyak orang membayangkan bahwa ketika Jepang menjadi modern, masyarakatnya otomatis menjadi lebih terbuka, lebih bebas, dan lebih “maju” dalam semua hal. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Dalam banyak aspek, Jepang Meiji justru menjadi lebih ketat daripada Edo, terutama dalam hal moral, tubuh, dan identitas.

Ini penting, karena di sinilah masuk pembahasan yang kamu minta: soal makan babi dan soal homoseksualitas.

Kalau kita bicara Jepang zaman Edo, kita sedang bicara tentang masyarakat yang sangat berbeda dari bayangan “Jepang modern” yang sering kita kenal sekarang. Edo punya aturan dan tabu sendiri, tetapi dalam banyak aspek sosial, ia jauh lebih “aneh” dan lebih fleksibel daripada yang dibayangkan orang sekarang.

Babi itu Haram


Di Jepang pra-modern, terutama dalam pengaruh panjang Buddhisme, ada tradisi kuat untuk menghindari konsumsi daging tertentu, terutama hewan berkaki empat. Larangan ini tidak selalu dijalankan secara mutlak oleh semua orang sepanjang waktu, tetapi secara budaya, makan daging mamalia besar bukan hal yang umum atau “normal” seperti dalam masyarakat industri modern. Ada tabu, ada alasan religius, ada kebiasaan sosial, dan ada juga faktor ekonomi serta lingkungan.

Karena itu, dalam kehidupan sehari-hari Edo, babi bukan makanan yang menjadi pusat diet nasional seperti dalam banyak masyarakat modern. Bahkan daging secara umum sering dipandang sebagai sesuatu yang tidak biasa, tidak sopan, atau setidaknya bukan makanan utama yang dibanggakan secara luas. Banyak masyarakat lebih terbiasa dengan ikan, sayuran, kedelai, nasi, dan makanan hasil pertanian lain. Jepang membangun pola hidup yang sangat dipengaruhi oleh keseimbangan, musim, dan tradisi.

Lalu datanglah zaman Meiji, dan tiba-tiba kita melihat perubahan yang sangat simbolis: negara mulai mendorong pola makan yang lebih dekat dengan Barat. Daging, termasuk daging mamalia, mulai dipromosikan sebagai makanan yang berkaitan dengan kekuatan fisik, kemajuan, dan peradaban modern.

Ini bukan sekadar perubahan menu makan. Ini perubahan ideologi.

Makan daging mulai diasosiasikan dengan “menjadi kuat seperti Barat”.
Tubuh rakyat mulai dipikirkan sebagai aset negara.
Makanan bukan lagi hanya urusan tradisi, tetapi urusan nasionalisme dan pembangunan.

Artinya, Jepang modern tidak lahir hanya dari pabrik dan senjata. Ia juga lahir dari keputusan politik tentang apa yang boleh masuk ke tubuh rakyat.

Jadi kalau di zaman Edo pola hidup lama masih kuat dan konsumsi daging seperti babi tidak menjadi hal umum atau ideal, maka di zaman Meiji negara mulai menormalkan bahkan mendorong perubahan itu sebagai bagian dari proyek “membuat bangsa kuat”.

Ini menunjukkan sesuatu yang sangat penting: modernisasi Jepang bukan sekadar adopsi teknologi, tetapi perubahan cara negara mengatur kehidupan paling pribadi sekalipun.

Hal yang sama, bahkan mungkin lebih dramatis, terjadi pada soal seksualitas.

Salah satu kesalahpahaman besar dalam melihat masa lalu adalah anggapan bahwa masyarakat pra-modern pasti lebih konservatif daripada masyarakat modern. Padahal dalam kasus Jepang, terutama soal homoseksualitas, kenyataannya justru lebih rumit.

Di Jepang zaman Edo, hubungan sesama jenis—terutama dalam konteks tertentu—bukan sesuatu yang otomatis dianggap “kejahatan moral” dengan cara yang kemudian dipahami dalam dunia modern. Ada praktik dan budaya yang dikenal dalam tradisi samurai maupun dunia hiburan urban, yang menunjukkan bahwa ketertarikan atau hubungan antara laki-laki dengan laki-laki tidak selalu diposisikan sebagai identitas terlarang yang harus dihancurkan.

Tentu ini bukan berarti Edo adalah surga kebebasan seksual modern. Itu juga salah. Masyarakat Edo punya norma, hierarki, dan struktur kuasa sendiri. Tapi yang penting adalah: seksualitas belum dipahami dengan kerangka moral modern ala negara-bangsa dan hukum Barat.

Dengan kata lain, banyak perilaku yang di zaman modern akan dikategorikan secara tegas sebagai “menyimpang” atau “ilegal”, di zaman Edo belum tentu dibingkai dengan cara seperti itu.

Lalu datanglah Meiji, dan lagi-lagi kita melihat pola yang sama seperti soal makanan:
negara modern mulai masuk ke wilayah privat manusia.

Kenapa?

Karena negara modern tidak hanya ingin rakyat yang patuh. Ia ingin rakyat yang “normal” menurut definisinya sendiri.

Jepang Meiji sedang membangun citra sebagai negara modern yang “beradab” di mata Barat. Dan di abad ke-19, salah satu cara dunia modern membangun dirinya adalah dengan membuat kategori-kategori baru tentang seks, tubuh, moral, keluarga, dan “penyimpangan”.

Jadi ironi besar Restorasi Meiji adalah ini:

Jepang menjadi modern bukan hanya dengan membuka diri pada sains dan teknologi Barat,
tetapi juga dengan mengimpor cara Barat mengawasi moralitas.

Di bawah negara modern, seksualitas mulai diatur dengan lebih ketat.
Hubungan yang dulu bisa eksis dalam ruang sosial tertentu menjadi semakin ditekan.
Yang dulunya mungkin dianggap bagian dari budaya atau praktik sosial tertentu, sekarang bisa dilihat sebagai sesuatu yang memalukan, tidak bermoral, atau tidak cocok dengan citra bangsa modern.

Jadi benar sekali kalau kamu bilang:

di zaman Edo homoseksualitas bisa lebih “ditoleransi”,
tetapi di zaman Meiji justru menjadi lebih tidak diterima.

Dan ini sangat penting untuk dipahami, karena ia menghancurkan mitos bahwa “modern” selalu berarti “lebih bebas”.

Kadang-kadang, modern justru berarti:

lebih banyak hukum,
lebih banyak pengawasan,
lebih banyak definisi tentang mana yang “normal” dan mana yang “tidak”.

Negara modern Jepang bukan cuma membangun kereta api dan sekolah.
Ia juga membangun moral resmi.

Inilah salah satu alasan paling penting kenapa Restorasi Meiji bisa mengubah Jepang menjadi modern: karena mereka mengerti bahwa modernisasi harus total.

Mereka tidak setengah-setengah.
Mereka tidak hanya membeli senjata Barat sambil mempertahankan seluruh struktur lama.
Mereka tidak hanya membuka pelabuhan tetapi membiarkan sistem feodal tetap utuh.
Mereka tidak hanya mengundang guru asing tetapi menolak perubahan pola pikir.

Sebaliknya, mereka melakukan revolusi yang sangat menyeluruh.

Mereka membubarkan sistem domain feodal.
Mereka memotong kekuatan politik para samurai lama.
Mereka membentuk birokrasi modern.
Mereka mengirim pelajar ke luar negeri.
Mereka menerjemahkan ilmu Barat.
Mereka membangun sekolah.
Mereka membangun tentara nasional.
Mereka mengubah sistem pajak.
Mereka mengubah cara negara membayangkan rakyatnya.

Dan semua itu dilakukan bukan dalam ruang kosong, melainkan dengan rasa urgensi yang luar biasa.

Jepang tahu bahwa mereka tidak punya banyak waktu.

Negara-negara lain di Asia sudah menjadi contoh yang menakutkan.
Ada yang dipaksa membuka diri.
Ada yang kalah perang.
Ada yang kehilangan kedaulatan.
Ada yang dijajah sedikit demi sedikit lewat perdagangan dan perjanjian.

Jepang melihat itu semua, lalu memutuskan sesuatu yang sangat dingin dan sangat strategis:

“Kalau dunia modern hanya menghormati negara yang kuat,
maka kita harus menjadi negara kuat.”

Dan untuk menjadi kuat, mereka rela mengorbankan banyak hal dari dunia lama mereka sendiri.

Tapi di sinilah paradoks Meiji yang paling menarik.

Restorasi Meiji sering diceritakan sebagai “Jepang meniru Barat”.
Padahal kalau dilihat lebih dalam, Jepang tidak sekadar meniru.
Mereka memilih, menyaring, lalu menjepangkan modernitas.

Mereka mengambil teknologi Barat, tetapi tidak menyerahkan jiwa nasional mereka sepenuhnya.
Mereka mengambil model tentara modern, tetapi menanamkannya dalam semangat loyalitas pada kaisar.
Mereka mengambil sekolah modern, tetapi mengisinya dengan pendidikan moral dan nasionalisme.
Mereka mengambil hukum modern, tetapi menggunakannya untuk memperkuat negara dan identitas Jepang.

Jadi keberhasilan Meiji bukan karena Jepang menjadi “Barat kedua”.
Keberhasilannya justru karena Jepang berhasil menciptakan formula yang sangat cerdas:

modern secara teknis,
tetapi tetap nasional secara ideologis.

Ini penting sekali.

Banyak negara gagal modernisasi karena mereka terjebak di dua ekstrem.
Ada yang terlalu mempertahankan masa lalu sampai lumpuh.
Ada yang terlalu meniru luar sampai kehilangan pijakan sosial dan politik.

Jepang Meiji, meskipun penuh kekerasan dan pemaksaan, berhasil menyeimbangkan keduanya. Mereka cukup radikal untuk berubah, tetapi cukup cerdas untuk membungkus perubahan itu sebagai proyek nasional Jepang, bukan sekadar penyerahan diri pada Barat.

Itulah sebabnya Restorasi Meiji terasa sangat efektif.

Perubahan yang mereka lakukan tidak dijual sebagai “ayo jadi orang Barat”,
tetapi sebagai “ayo selamatkan Jepang”.

Dan ketika modernisasi dibingkai sebagai patriotisme, rakyat lebih mudah menerima perubahan yang sebenarnya sangat drastis.

Kalau dipikir-pikir, ini menjelaskan kenapa perubahan gaya hidup yang sangat pribadi pun bisa diterima.

Misalnya soal pakaian, rambut, makanan, disiplin, sekolah, bahkan moral seksual—semua itu bisa diubah bukan hanya karena negara punya hukum, tetapi karena negara berhasil membangun narasi bahwa:

“Semua ini dilakukan demi kekuatan bangsa.”

Maka ketika Jepang mulai makan lebih “modern”, itu bukan sekadar soal rasa.
Itu soal tubuh bangsa.

Ketika Jepang mulai mengatur keluarga dan moral seksual, itu bukan sekadar soal etika pribadi.
Itu soal citra nasional.

Ketika negara mulai menentukan apa yang “sehat”, “beradab”, “normal”, dan “patriotik”, rakyat perlahan-lahan belajar melihat diri mereka bukan lagi hanya sebagai individu atau anggota kelas sosial lama, tetapi sebagai warga negara Jepang modern.

Dan di situlah Restorasi Meiji benar-benar menang.

Ia tidak hanya menang di level pemerintahan.
Ia menang di level imajinasi sosial.

Jepang berhasil membuat rakyat percaya bahwa hidup mereka harus berubah agar negara bisa hidup.

Namun, kita juga harus jujur: keberhasilan Meiji punya sisi gelap.

Sering kali orang memuji Restorasi Meiji hanya dari hasil akhirnya: Jepang jadi kuat, modern, dan disegani. Tetapi prosesnya tidak selalu indah. Banyak kelompok kehilangan status, banyak tradisi dipinggirkan, banyak bentuk kebebasan sosial lama menghilang, dan negara menjadi semakin intrusif dalam kehidupan sehari-hari.

Samurai kehilangan peran lamanya.
Budaya lokal harus tunduk pada identitas nasional.
Moral pribadi mulai diawasi.
Tubuh rakyat dijadikan alat negara.
Dan pada akhirnya, negara yang sangat kuat itu juga akan membawa Jepang ke arah militerisme agresif di abad ke-20.

Artinya, modernisasi Jepang memang berhasil, tetapi bukan tanpa biaya.

Ini penting supaya kita tidak jatuh pada romantisasi sejarah.

Restorasi Meiji bukan dongeng tentang “kemajuan murni”.
Ia adalah kisah tentang bagaimana sebuah negara membangun masa depan dengan cara merombak manusia-manusianya.

Dan kalau dilihat dari situ, perubahan soal makanan dan homoseksualitas yang tadi kamu singgung bukan detail kecil. Justru itu contoh paling jelas bahwa Meiji mengubah Jepang sampai ke lapisan terdalam kehidupan sosial.

Negara tidak hanya berkata:
“Bangun pabrik.”

Negara juga berkata:
“Jadilah manusia Jepang yang baru.”

Dan “manusia Jepang yang baru” itu harus:

lebih kuat,
lebih disiplin,
lebih produktif,
lebih nasionalis,
dan lebih sesuai dengan standar moral yang dianggap modern saat itu.

Jadi, kalau kita tarik semuanya ke satu jawaban besar, alasan kenapa Restorasi Meiji bisa mengubah Jepang menjadi modern adalah karena ia bukan sekadar reformasi biasa. Ia adalah transformasi total.

Jepang berhasil modern karena mereka:
bukan hanya mengganti penguasa,
tetapi mengganti sistem negara.

Mereka bukan hanya membeli teknologi,
tetapi membangun institusi.

Mereka bukan hanya belajar dari Barat,
tetapi menggunakan pelajaran itu untuk menyelamatkan diri.

Dan yang paling penting, mereka bukan hanya mengubah pemerintahan,
tetapi mengubah cara rakyat hidup.

Itulah sebabnya perubahan itu begitu dalam dan begitu cepat.

Zaman Edo memberi Jepang fondasi stabilitas, budaya, keteraturan, dan masyarakat yang terorganisasi. Tetapi Restorasi Meiji mengambil fondasi itu dan mengarahkannya ke sesuatu yang baru: negara modern yang sadar bahwa untuk bertahan, ia harus mampu mengatur masa depan.

Maka, ketika kita bertanya “kenapa Restorasi Meiji bisa mengubah Jepang menjadi modern?”, jawabannya sebenarnya sangat tajam:

Karena Jepang tidak mencoba memperbaiki dunia lama.
Jepang memutuskan untuk menciptakan dunia baru.

Dan dunia baru itu tidak hanya terlihat pada kereta api, pabrik, atau tentara.

Ia juga terlihat pada hal-hal yang tampaknya kecil, tetapi sangat penting:
apa yang orang makan,
bagaimana tubuh dipahami,
siapa yang dianggap “normal”,
dan nilai seperti apa yang dianggap pantas untuk bangsa modern.

Jadi modernisasi Jepang bukan cuma kisah teknologi.
Ia adalah kisah tentang kekuasaan, identitas, dan perubahan manusia.

Dan justru karena itulah Restorasi Meiji menjadi salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah dunia.

Iran itu sama seperti Restorasi Meiji

Dalam imajinasi tradisional Jepang, kaisar bukan sekadar raja. Ia dikaitkan dengan garis keturunan ilahi melalui dewi matahari Amaterasu, sehingga posisinya berada di luar kategori politik biasa. Pada masa Meiji, negara lalu mengambil warisan simbolik itu dan mengubahnya menjadi mesin kekuasaan modern. Melalui State Shintō, negara menjadikan penghormatan pada kaisar, ritual Shinto, dan loyalitas kebangsaan sebagai satu paket ideologis yang resmi. Penghormatan pada kuil diperlakukan sebagai kewajiban patriotik, pendidikan moral di sekolah disusun untuk menanamkan loyalitas, dan status ilahi kaisar terus dipelihara oleh negara.
Nah, dari sini kita mulai bisa melihat bahwa Restorasi Meiji bukan sekadar revolusi politik. Ia adalah revolusi ketaatan.
Sebab kalau negara hanya berkata, “Ikuti reformasi ini karena kami pemerintah,” maka rakyat masih bisa berpikir, “Kenapa harus taat?” Tapi kalau negara berkata, “Ikuti reformasi ini karena ini kehendak kaisar, pusat bangsa, pewaris leluhur, dan figur suci yang melambangkan Jepang itu sendiri,” maka ruang untuk membangkang menjadi jauh lebih sempit. Penolakan terhadap kebijakan tidak lagi sekadar dibaca sebagai perbedaan pendapat, tetapi bisa dibingkai sebagai pengkhianatan terhadap bangsa.
Inilah yang membuat modernisasi Jepang bisa berlangsung begitu cepat. Jepang tidak hanya punya kebijakan, tetapi punya otoritas sakral yang memberi legitimasi pada kebijakan itu.
Karena pada akhirnya, rakyat tidak hidup hanya dengan logika rasional. Rakyat hidup dengan simbol, mitos, dan figur yang mereka anggap lebih tinggi dari diri mereka sendiri. Para elite Meiji memahami ini dengan sangat baik. Mereka tahu bahwa kalau Jepang ingin selamat dari ancaman Barat, maka Jepang harus dibangun ulang dari atas sampai bawah. Tetapi untuk melakukan pembangunan ulang itu, mereka membutuhkan satu hal yang lebih kuat daripada sekadar senjata atau hukum. Mereka membutuhkan alasan yang tidak bisa dibantah secara emosional. Kaisar memberi mereka alasan itu.
Maka benar kalau kamu mengatakan bahwa Restorasi Meiji berhasil karena “semua perkataan kaisar wajib didengar”, asalkan kalimat itu dipahami bukan secara naif, melainkan sebagai fakta politik bahwa kaisar dijadikan sumber legitimasi tertinggi yang berada di atas perdebatan biasa.
Kalau dilihat secara fungsi politik, memang ada kemiripan tertentu antara peran kaisar pada zaman Meiji dan peran pemimpin tertinggi dalam Republik Islam Iran. Dalam dua kasus ini, negara tidak hanya bergantung pada birokrasi, parlemen, atau pemerintah biasa. Negara bergantung pada figur tertinggi yang posisinya dianggap lebih tinggi dari politik sehari-hari. Figur itu menjadi pusat legitimasi. Ia tidak hanya memerintah, tetapi memberi kesan bahwa kekuasaan negara memiliki dasar yang lebih dalam, lebih tinggi, dan lebih suci daripada sekadar urusan administrasi.
Dalam sistem Iran modern, Supreme Leader atau rahbar memang memegang posisi seperti itu. Ia berada di atas lembaga-lembaga politik biasa, memiliki pengaruh besar terhadap arah negara, militer, dan pejabat-pejabat penting, dan otoritasnya dibenarkan melalui teori velāyat-e faqīh, yaitu gagasan bahwa seorang ahli hukum Islam yang paling layak dapat membimbing masyarakat secara sah dalam urusan politik dan moral. Secara konstitusional, jabatan ini memang memiliki wewenang yang sangat besar atas negara. 


Tidak ada komentar