Hot Artikel

Kenapa Lebaran Idul Fitri di Indonesia berbeda-beda?

Kenapa Lebaran Idul Fitri di Indonesia berbeda-beda?


Kenapa Lebaran Idul Fitri di Indonesia berbeda-beda?

Kenapa Lebaran Idul Fitri di Indonesia berbeda-beda?

Kenapa Lebaran Idul Fitri di Indonesia berbeda-beda? -  Oke, jadi perbedaan penentuan awal dan akhir Ramadhan di Indonesia selalu menjadi polemik tahunan yang cukup menarik untuk dibahas, sebenarnya. Dan kacaunya, ternyata tak sedikit orang yang mengikuti salah satu madzhab hanya berdasarkan alasan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Misalnya, seperti dia ikut berpuasa dan berlebaran versi pemerintah hanya karena fomo saja, ikut ikutan dan lain-lain. Level yang agak atasan sedikit, biasanya alasannya karena Islam mewajibkan kita ikut Amirul Mukminin, dan pemerintah adalah Amirul Mukminin itu sendiri.

Di sisi lain, ada juga beberapa orang yang tidak ikut pemerintah dan mengikuti paham salah satu organisasi, yang menggunakan metode hisab alias perhitungan kalender. Dan sekarang, ada yang baru lagi nih, dimana mereka berpuasa atau pun berlebaran berdasarkan rukhyat global, tidak berdasarkan rukhyat yang dilakukan oleh pemerintah.  Ya, seperti kita ketahui, pemerintah sendiri klaimnya sih menggunakan metode rukhyat. Meskipun, nyatanya fakta di lapangan berbicara berbeda. Tidak seperti Arab Saudi yang benar-benar menggunakan metode rukhyat murni, ketika ada orang yang bersaksi melihat bulan baru. Langsung ditarik, lalu ambil sumpah kesaksiannya, dan segera diumumkan keputusan awal Ramadhan ataupun Idul Fitri berdasarkan kesaksian tersebut. Sedangkan, pemerintah Indonesia tidak demikian, ada salah satu kasus beberapa tahun lalu sudah ada orang yang bersumpah melihat bulan baru, namun kesaksiannya di batalkan hanya karena tidak sesuai dengan perhitungan derajat minimal hisab yang telah dilakukan sebelumnya.

Ya, inilah sebenarnya asal permasalahan besar yang terjadi di Indonesia untuk masalah penentuan awal bulan kamariah ini. 
Jika kalian belum mengetahui bahwa, antara Muhammadiyah dan NU sebagai perwakilan pemerintah. Terdapat perbedaan paling mencolok dalam menentukan penanggalan bulan Hijriah. Sebenarnya perbedaan itu bukan terjadi pada perbedaan metode Hisab dan Rukhyat yang biasa kita dengan di media-media Mainstream.
Perbedaan sesungguhnya hanyalah terdapat pada metode hisabnya saja alias perhitungan prediksi dengan menggunakan rumus matematika serta perbedaan pada standar penentuan Hilal.
Muhammadiyah menentukan, standar derajat hilal sudah muncul dan sudah bisa dijadikan penanda awal bulan baru adalah 1 derajat. Sedangkan NU menentukan standarnya 3 derajat.

Saya pribadi bisa memaklumi bahwa, 1 derajat menjadi standar utama penentuan bulan baru. Namun untuk standar 3 derajat, hingga saat ini saya belum memahami apa yang menjadi dasar dari penentuan standar itu.

Jika, standar itu diberlakukan karena 3 derajat adalah standar yang pas untuk mengatakan bahwa bulan sudah bisa dilihat dengan mata telanjang. Sayang nya argumen ini benar-benar tidak didukung dengan fakta yang ada di lapangan.

Kita ambil contoh pada tahun 2011 ketika untuk pertama kalinya di Indonesia, hari raya Idul Fitri harus ditunda sehari. Hal itu dikarenakan, sidang isbat memutuskan bahwa bulan baru atau hilal belum mencapai standar yang ditentukan pada saat itu yaitu 2 derajat.

Namun, mengutip dari laman detik.com, sebenarnya pada saat itu sebenarnya hilal telah terlihat di wilayah Cakung, Jakarta Timur dan Jepara, Jawa Tengah. Dan dengan cepat kesaksian dengan sumpah dari orang-orang yang melihat hilal tersebut ditolak MUI. Karena seperti yang telah saya katakan di atas, setelah di cek ternyata hilal tersebut hanya terlihat 1 derajat.

Metode Hisab vs Ruhiyat


Nah, yang jadi masalah disini adalah ternyata standar terlihatnya hilal di Indonesia bukanlah 2 derajat atau bahkan 3 derajat, namun 1 derajat juga telah bisa terlihat dengan jelas.
Karena seperti yang dikatakan di dalam Al Qur’an bahwa,


Artinya adalah, Allah tidak pernah memerintahkan kita untuk menetapkan derajat tertentu terhadap Hilal. Namun, jika kita melihat Hilal, maka itulah waktu terjadinya pergantian bulan. Dan melihat kasus di tahun 2011 di Indonesia tersebut, bisa disimpulkan bahwa standar penetapan Hilal terlihat jelas adalah 1 derajat. Bukan 3 derajat.

Ya, bisa dikatakan standar dari terlihatnya hilal di seluruh dunia adalah 1 derajat. Dikutip dari laman Republika.com, di Arab Saudi bahkan yang sama sekali tidak menggunakan metode hisab dalam menentukan awal bulan baru dan hanya menggunakan metode melihat langsung alias ruhiyat. Pada tahun 2019, hilal di konfirmasi telah terlihat dengan jelas di oleh para saksi yang di sumpah. Dan setelah diukur, ternyata hilal hanya berada di angka 1 derajat lebih.

Namun, meski hanya 1 derajat. Pemerintah Arab Saudi meyakinkan bahwa hilal telah terlihat dan akhirnya diputuskan bahwa keesokan harinya telah masuk hari raya Idul Fitri.

Rukyat Global


Oke, kita baru menyelesaikan akar masalah dari 2 perbedaan yang terjadi di antara 2 metode saja. Lalu bagaimana dengan penentuan awal bulan Kamariah menggunakan rukyat global? apakah ini juga bermasalah?

Ya, jelas ini juga tak lepas dari permasalahan. Misalnya saja, seperti tahun ini di mana penganut metode ini berlebaran jauh lebih dulu mendahului Muhammadiyah dan juga Pemerintah. Itu karena di Afghanistan sudah terlihat hilal di beberapa provinsi. Namun yang menjadi perdebatan adalah, banyak orang mengklaim yang di lihat di afghanistan bukalah bulan, melainkan Saturnus. Ini menjadi kontroversi dan cukup menjadi perdebatan serius di sosial media.

So. apapun itu. Begitulah akar permasalahan dasar dari beberapa perbedaan ini, apapun pilihan yang kalian ikuti. Selama kalian tahu dan paham dasarnya, maka itu akan dihitung sebagai sebuah ijtihad. Yang salah adalah, justru seperti apa yang saya katakan pada pembukaan di atas, ketika seseorang memilih satu pendapat tertentu hanya karena fomo ataupun ikut-ikutan saja, di situlah letak bencananya.

Tidak ada komentar